Tex
Menjadi Gereja Kasum Musafir di Tengah Arus Buruh Migran dan Perantau
Gereja pasca Konsili Vatikan II memandang migrasi tidak hanya sebagai persoalan sosial semata melainkan juga sebagai persoalan iman. Dalam semangat pembaharuan (aggionamento), Gereja diharapkan mampu membaca tanda-tanda zaman dan menanggapinya dalam terang iman. Iman bukan hanya persoalan pengakuan dengan mulut dalam liturgi melainkan tanggapan atas realitas manusiawi, dalam wujud tanggung jawab sosial setiap pribadi dan komunitas atas apa yang diimaninya. Dan, iman itu berhubungan erat dengan misi Gereja sebagai tindakan profetis dan pembebasan. Di titik ini, Gereja hadir sebagai musafir, yang berziarah dalam semangat trinitaris dan serentak menjadi misioner yang mewartakan Kerajaan Allah: ?pergilah dan jadikanlah semua bangsa murid-Ku? (Mat. 18:19). Dalam karya pewartaannya, Gereja menyusuri lorong-lorong ?pertobatan, menggalang solidaritas (senasib dan seperjuangan), menumbuhkan pengharapan sekaligus menjadi sign of hope (tanda pengharapan) di tengah keputusasaan karena persoalan hidup, terbuka untuk diperkaya oleh rekan-rekan seperjalanan dan terus berdialog dengan keanekaragaman agama, budaya, dan realitas kemiskinan. Dengan demikian, Gereja hadir sebagai sakramen, tanda kehadiran Allah dalam sejarah manusia. Karya ini mencoba merefleksikan jati diri Gereja sembari menawarkan sejumlah langkah praktis untuk menjadikan Gereja sebagai ?yang senasib-seperjuangan? dengan para migran dan serentak menghadirkan dirinya sebagai ?harapan? bagi mereka yang sedang mengalami nasib-nasib yang jauh dari harapan peradaban kemanusiaan.
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain